Connect with us

Opini

Kekayaan Budaya Lahat Wajib Dilestarikan

Published

on

Opini : Mario

BATURANG PULAU PANGGUNG – Udara yang sejuk dan segar sangat terasa ketika kami memasuki Desa Aceh yang merupakan desa pertama di Kecamatan Pajar Bulan karena di kecamatan ini mayoritas menanam kopi dengan pohon pembayangnya sehingga sepanjang jalan terlihat hijaunya kebun kopi. Suasana kota Lahat yang mulai hiruk pikuk sempat terlepas dari benak kami sesaat kami memasuki Kecamatan Pajar Bulan yang merupakan kecamatan pemekaran dari Kecamatan Jarai.
Tujuan utama kami di Kecamatan Pajar Bulan adalah mengunjungi Desa Pulau Panggung. Sebelum menuju Desa Pulau Panggung kami mengunjungi sebuah batu berelief yang menggambarkan seseorang sedang menggendong hewan seperti rusa dengan tangan kiri memegang tanduk rusa, orang digambarkan berambut tegak ke atas dan perut buncit memakai kalung pada lehernya. Batu berelif ini yang terletak dihalaman depan rumah bernama Amir Hamzah di Desa Pajar Bulan Kecamatan Pajar Bulan. Seorang pemuda yang kami hubungi mengatakan penduduk sekitar tidak mengetahui bahwa di batu tersebut terdapat relief disebabkan selama ini tertutup pepohonan. Batu yang teronggok selama ini tidak menjadi perhatian warga desa ternyata adalah sebuah batu bergores yang bernilai tinggi hasil karya masyarakat masa megalit yang telah berkembang ribuan tahun lalu di daerah ini. Hal ini teungkap dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Sumatera Selatan. Kemudian kami singgah di sebuah lumpang batu berlubang 4 (empat) terletak di halaman rumah yang masih berada di Desa Pajar Bulan yang cukup jelas terlihat bila kita melalui jalan raya dari Desa Pajar Bulan ke arah Desa Pulau Panggung. Sebenarnya jumlah temuan megalit di Desa Pajar Bulan sangat banyak, lebih dari 300an temuan megalit.
Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Desa Pulau Panggung. Walau di siang hari dan matahari bersinar terik tetapi kami tidak merasa panas dan tak membuat kami lelah. Setelah memasuki Desa Pulau Panggung, tidaklah susah untuk menemukan kediaman Ahlan sang juru pelihara batu megalit Desa Pulau Panggung. Di pertigaan jalan disebelah kiri tertulis petunjuk menuju batu megalit yang juga ke arah rumah Ahlan.
Jarak Desa Pulau Panggung hanya sekitar 8 km dari Kota Pagar Alam atau 73 km dari Kota Lahat yang dapat ditempuh selama 1,5 jam perjalanan. Jalanan yang beraspal mulus dan sedikit berliku membuat perjalanan sangat mengesankan. Kebun kopi penduduk yang hampir dipanen telah kelihatan memerah. Panorama alam pegunungan sangat mempesona. Mayoritas penduduk disini bertanam kopi dan merupakan produk andalan kawasan di kaki Gunung Dempo yang berhawa sejuk.
Setelah diterima Ahlan dan kamipun langsung berjalan menuju kebun Ahlan yang juga merupakan komplek batu megalit berada. Jalan tanah selebar 2 m dengan perkebunan kopi dikanan kiri sangat menyenangkan. Sepanjang perjalanan Ahlan banyak bercerita tentang megalit yang ada di kebunnya. Kunjungan pertama kami melihat sebuah batu terletak didalam tanah berukuran 1 m. “Aku menggali batu megalit ini karena mimpi dari Rorena anakku” demikian penuturan Ahlan sang juru pelihara situs yang terletak di Desa Pulau Panggung Kecamatan Pajar Bulan Kabupaten Lahat. Di batu ini terdapat pahatan seorang digigit seekor ular pada bagian tangan sampai bahu, sedang seorang lagi dililit dan digigit seekor ular lainnya. Pada bagian atas batu ini terdapat genangan air. Nampaknya batu ini sebuah lumpang batu berukir. Lumpang batu berukir merupakan hal yang langka, unik dan tentu mempunyai nilai budaya sangat tinggi. Lumpang batu ini ditemukan sekitar bulan April 2010.
Kemudian Ahlan membawa kami menuju batu megalit lainnya. Dengan menyusuri pepohonan kopi di kanan kiri yang mulai memerah sampailah kami pada sebuah batu yang menggambarkan figur manusia dengan mata besar, hidung pesek dan bibir tebal memakai topi, gelang tangan dan kalung motif polos sedang menunggang gajah, membawa dua anak yang di kepit di ketiak kanan dan kiri. Tampak kepala gajah, mata dan gading. Detail pola pahatan gajah dan manusia sangat jelas dan lebih dinamis. Batu ini mempunyai ukuran panjang 170 cm, lebar 95 cm dan tinggi 125 cm. Batu ini disebut Arca Megalit yang popular disebut masyarakat sebagai Baturang mungkin singkatan dari batu orang. Batu megalit yang konon berusia 3.000 tahun merupakan tinggalan masa megalit tepat berada di kebun kopi yang rindang nan asri dengan pohon-pohon pembayangnya. Berada disini terasa berada di masa ribuan tahun lalu tanpa ada suara mesin-mesin dan hiruk pikuk yang ada hanya suara burung dan beberapa suara serangga.
Bukan hanya 2 batu megalit itu saja yang ada di kebun Ahlan tapi masih ada 1 lumpang batu berlubang satu dan lesung batu yang bentuk hiasan luarnya beragam dan letaknya tersebar. Ada lesung batu berkepala kodok, berkepala kambing, berhias seekor ular dan orang. Dan semua lesung batu tersebut mempunyai lubang dengan ukuran lebar dan dalam yang sama, sepertinya mereka yang membuat telah mengenal alat ukur. Suatu temuan yang langka dan unik. Di Desa Pulau Panggung ini total ditemukan lesung batu berhias berjumlah 34 buah, lumpang batu, lumpang batu berhias, dolmen, tetralith, arca megalit dan batu datar.
Kecamatan Pajar Bulan merupakan pusat temuan batu megalit terbesar yang ada di Kabupaten Lahat dan Sumatera Selatan bahkan mungkin se Indonesia. Selain Desa Pajar Bulan dan Desa Pulau Panggung batu megalit berupa bilik batu, lesung batu, lumpang batu, batu datar, monolith, trilith, menhir, dolmen, arca, tetralith juga ditemukan di Desa Talang Pagar Agung, Benua Raja, Kota Raya Lembak, Sumur dan Talang Padang Tinggi. Bahkan Batu Gajah yang sangat terkenal, yang saat ini tersimpan di Museum Balaputradewa di Palembang berasal dari Desa Kota Raya Lembak Kecamatan Pajar Bulan.
Tinggalan megalitik yang ada di Kecamatan Pajar Bulan sifatnya unik, langka dan tidak dapat diperbaharui dan merupakan bukti-bukti aktivitas manusia masa lampau yang dapat memberikan gambaran tentang kehidupan sosial, ekonomi, pemukiman, penguasaan tehnologi, kehidupan religi. Untuk itu pelestarian benda cagar budaya merupakan hal yang penting bagi pemahaman, dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan sehingga perlu terus diupayakan untuk dilindungi, dijaga, dirawat demi memupuk kesadaran jati diri bangsa dan kepentingan Nasional.
Manfaat yang dapat diambil dengan adanya pelestarian situs megalit di Kecamatan Pajar Bulan Kabupaten Lahat Propinsi Sumatera Selatan menunjukkan adanya kebhinekaan tinggalan budaya pada masa lampau selain itu juga dengan melihat banyaknya sebaran megalit di Kecamatan Pajar Bulan, dapat memperkaya khazanah budaya Indonesia. Tinggalan megalit yang terdapat di Kecamatan Pajar Kabupaten Lahat memiliki aspek nilai penting bagi: sejarah, ilmu pengetahuan, sebagai media pembelajaran sejarah dan budaya pendidikan, penciptaan kurikulum muatan lokal khususnya tentang sejarah megalit.
Batu megalit di Dataran Tinggi Pasemah yang terdapat di Kabupaten Lahat telah dikunjungi untuk pertama kali pada tahun 1850 oleh L.Ullman dan yang cukup terkenal adalah Van der Hoop tahun 1932 dengan bukunya ”Megalithic Remains in South Sumatera”. Sekarang timbul sebuah pertanyaan sudah berapa banyak masyarakat Kabupaten Lahat dan Sumatera Selatan yang telah mengunjungi situs megalit yang telah tersohor sejak tahun 1850 silam? Apakah kita masyarakat Kabupaten Lahat dan Sumatera Selatan sudah tahu dan menyadari bahwa di Kabupaten Lahat yang kita cintai ini terdapat megalit terbanyak dan terbaik se Indonesia? Semua ini menjadi tugas kita bersama untuk menjaga, memelihara, melestarikan, memanfaatkan dan mempromosikan pada dunia semua yang kita miliki, sehingga bermanfaat untuk semua masyarakat Kabupaten Lahat dan Sumatera Selatan (By Mario Andramartik).

Opini

Kesempatan  Untuk Memerdekakan Fakir Miskin di Sumsel

Published

on

By

INDONESIA bahkan dunia agaknya dikejutkan dengan pemberitaan tentang keluarga Akidi Tio menyumbang Rp 2 triliun untuk masyarakat Sumatera Selatan akibat serangan virus corona (Covid 19) pada Senin (26/7/2021). Jumlah bantuan yang luar biasa dan pemberi bantuan selama ini tidak dikenal luas oleh masyarakat dari berbagai kalangan.

Acara penyerahan bantuan secara simbolis telah dilaksanakan oleh keluarga Akidi Tio kepada Kapolda Sumsel, Irjen Pol Eko Indra Heri disaksikan Gubernur Sumsel, H Herman Deru dan Prof Dr. Hardi Darmawan, dokter keluarga Akidi Tio.

Meski uang Rp 2 triliun itu belum diketahui apakah sudah diterima oleh Kapolda Eko Indra Heri atau belum, kita patut memberi apresiasi kepada keluarga keturunan Tionghoa yang berasal dari Langsa, Aceh tersebut.

Kita tentu berharap duit Rp 2 triliun tersebut segera diterima oleh Kapolda dan kemudian disalurkan kepada rakyat yang fakir, miskin, anak-anak terlantar dan keluarga yang terdampak Covid 19.

Sesungguhnya, sebagaimana diungkapkan melalui berbagai media sosial, Akidi Tio semasa hidupnya berpesan jika diberikan harta kekayaan maka dia akan membantu rakyat yang fakir dan miskin.

Kewajiban membantu fakir miskin dan anak-anak terlantar tersebut sesungguhnya merupakan kewajiban yang wajib dilaksanakan oleh negara. Dalam hal ini pemerintah dan rakyat Indonesia sesuai pasal 34 UUD 1945. Dan, terkhusus bagi umat Islam, kewajiban menafkahkan sebagian harta untuk fakir, miskin dan sejumlah penerima lainnya merupakan kewajiban yang mutlak mesti dilaksanakan setiap muslim.

Faktanya, banyak rakyat yang fakir dan miskin tetapi tidak menerima hak mereka. Pemerintah Kabupaten, Kota dan Provinsi tidak menyediakan anggaran dalam jumlah cukup dan wajar untuk rakyat yanga fakir miskin dan anak-anak terlantar tersebut. Coba cek di APBD Kabupaten, Kota dan Provinsi berapa besar dana yang dialokasikan untuk fakir, miskin dan anak-anak terlantar?

Yang ada biasanya menyalurkan dana dari pemerintah pusat (Kementerian Sosial) untuk sejumlah rakyat yang terdaftar. Sementara yang seharusnya menerima, barangkali jumlahnya masih sangat banyak.

Kita berharap dengan adanya bantuan dari keluarga Akidi Tio tersebut, moga segera terealisir, Gubernur Herman Deru dan para bupati serta walikota di Sumsel segera melakukan introspeksi dan selanjutnya menyediakan anggaran untuk rakyat yang fakir dan miskin serta anak-anak terlantar.

Adalah sangat tidak adil dan tidak wajar ketika dana APBD diberikan kepada para pejabat dan ASN yang sudah diberi gaji tiap bulan dengan judul tunjangan kinerja (Tunkin), Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) dan lain sebagainya sementara untuk rakyat yang fakir dan miskin tidak disediakan dalam jumlah cukup dan wajar.

Akidi Tio dan keluarga sudah mengingatkan semua warga Indonesia tentang perlu dan wajib menafkahkan sebagian harta kepada fakir miskin dan anak-anak terlantar. Kewajiban tersebut sudah diperintahkan dalam UUD 1945 dan bagi umat Islam sudah tegas dan jelas di dalam Al Quran tentang zakat, infaq dan sedekah.

Atas dasar itu pula, sudah saatnya kita melakukan introspeksi dan melakukan gerakan melaksanakan kewajiban memberikan sebagian harta kepada rakyat yang fakir dan miskin serta anak-anak terlantar. Adalah sangat tidak adil –mungkin terkutuk- bila yang sudah digaji tiap bulan dalam jumlah besar, jutaan, bahkan dengan tunjangan jabatan lantas masih diberikan lagi duit dari APBD dengan judul Tunkin atau TPP sementara rakyat yang fakir miskin dan anak-anak terlantar yang mestinya diberikan anggaran lewat APBD tetapi tidak diberikan. (Palembang, 2 Agustus 2021, AFDHAL AZMI JAMBAK)

Continue Reading

LAHAT

Peninggalan Budaya Desa Lebak Budi Merapi Barat

Published

on

By

Merapi – Ada ungkapan yang mengatakan kekayaan budaya dan wisata Kabupaten Lahat tak akan pernah habisnya untuk digali dan diulas. Seperti kita ketahui bersama saat ini Kabupaten Lahat terkenal dengan julukan Negeri Seribu Megalit, hal ini karena memang di Kabupaten Lahat ditemukan banyak situs megalit apalagi pada tahun 2012 Kabupaten Lahat mendapatkan penghargaan sebagai pemilik situs megalit terbanyak se Indonesia. Selain itu Kabupaten Lahat juga mempunyai banyak air terjun dan yang telah terdata oleh Lembaga Kebudayaan dan Pariwisata Panoramic of Lahat sebanyak 179 air terjun yang tersebar di berbagai desa dan kecamatan juga potensi wisata lainnya seperti danau, sungai, bukit dan potensi di sektor kebudayaan, pertanian, perkebunan, perikanan dan pertambangan.

Selama ini kita sering mengelompokkan potensi Kabupaten Lahat misalnya Merapi Area terkenal merupakan daerah pertambangan batubara, Kikim Area dengan potensi perkebunan karet dan sawit, Gumay Ulu hingga Jarai Area perkebunan kopi dan pariwisata, Kota Agung seputaran dengan potensi pertanian. Akan tetapi setelah kami survey secara mendetail banyak potensi yang belum terungkap semua per area tersebut.

Misalnya kawasan Merapi Area yang kita sebut sebagai daerah pertambangan batubara ternyata juga mempunyai perkebunan kopi dengan kwalitas kopi terbaik dengan score nilai hasil uji laboratorium mempunyai nilai di atas 80 poin, juga mempunyai peninggalan sejarah dan budaya yang cukup banyak. Kami sangat terkejut ketika kami ke Desa Lebak Budi Kecamatan Merapi Barat, di desa ini kami melihat rumah adat Kabupaten Lahat yaitu Ghumah Baghi yang sama persis dengan ghumah baghi yang ada di daerah uluan seperti Kota Agung area hingga Jarai Area dan Tanjung Sakti. Selama ini kami menganggap bahwa ghumah baghi di Kecamatan Lahat hingga Merapi Area tidak ada. Dengan adanya ghumah baghi di Desa Lebak Budi mematahkan argumentasi yang selama ini berkembang.

Untuk mendata secara detail peninggalan sejarah dan budaya yang ada di Merapi Area khususnya di Kecamatan Merapi Barat, Staf khusus Bupati Lahat Bidang Pendidikan dan Kebudayaan Matcik,SH mengajak Kepala Museum Balaputradewa Palembang Candra Amprayadi untuk mengunjungi Desa Lebak Budi Kecamatan Merapi Barat.

Dalam kegiatan pendataan ini jugo ada Staf Khusus Bupati Lahat Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang jugo penggiat budaya dan wisata, Mario Andramartik dan Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lahat Bambang Aprianto,SH,MM yang mewakili Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lahat.
Tim Pendataan yang dipimpin oleh Matcik langsung menuju rumah Syahrudin sang pemilik rumah adat yang berada di Desa Lebak Budi Kecamatan Merapi Barat. Rumah panggung berwarna cat hijau yang merupakan rumah adat dengan ukiran atau pahatan pada bagian dinding depan dan samping. Akan tetapi sepintas kita tidak akan melihat rumah ini sebagai ghumah baghi yang penuh dengan makna karena ciri khas ghumah baghi dari tampak depan sudah tertutup dengan penambahan bangunan, bagian bawah rumah sudah ada dinding beton, tiang rumah yang aslinya dari kayu bulat utuh sudah diganti dengan tiang beton, atap rumah yang berbentuk pelana kuda juga sudah berubah. Tetapi berbagai perubahan tersebut masih menyisakan beberapa ciri khas ghumah baghi seperti pahatan pada bagian depan dan samping rumah. Pahatan yang ada di bagian depan rumah bagian atas sama persis baik tata letak dan motif pahatan dengan ghumah baghi daerah uluan. Akan tetapi dinding rumah sudah di cat warna hijau sedang aslinya ghumah baghi tanpa cat, pahatan aslinya tidak di cat sedang pada rumah ini sudah di cat warna kuning emas.
Walaupun ghumah baghi ini sudah banyak mengalami perubahan tetapi masih menunjukkan suatu ciri bahwa sang pemilik rumah bukanlah orang sembarang biasanya merupakan keturunan dari para tokoh desa atau pemimpin desa masa lalu yang mempunyai pengaruh di desa. Dan ternyata dugaan kami benar adanya bahwa Syarudin merupakan keturunan Pasirah Marga Empat Suku Negeri Agung.

Dengan adanya ghumah baghi di desa Lebak Budi Kecamatan Merapi Barat maka menambah perbendaharaan jumlah ghumah baghi di Kabupaten Lahat baik jumlah ghumah baghi maupun letak ghumah baghi. Selain ghumah baghi juga ada peninggalan budaya lainnya yang berada di ghumah baghi yang didiami Syahrudin antara lain benda-benda keramik, topi yang pernah dipakai oleh Pasirah, aksara Ka ga nga yang ditulis di sepotong bambu bulat utuh berwarna kuning, lempengan tembaga bertuliskan huruf Jawa yang kemungkinan peninggalan masa Kesultanan Palembang dan berbagai benda pusaka lainnya yang belum dapat kami lihat. Semua temuan tersebut selama ini belum pernah diulas dan diungkap secara umum jadi temuan ini termasuk langka smoga ke depan dapat diteliti dan dikaji lebih dalam lagi untuk mengungkap semua peninggalan budaya dan sejarah khususnya dari Marga Empat Suku Negeri Agung.
Matcik tidak salah mengundang kepala museum Balaputradewa Palembang ke desa Lebak Budi yang juga merupakan desa kelahiran Bupati Lahat saat ini Cik Ujang karena desa Lebak Budi yang dahulunya merupakan bagian dari Marga Empat Suku Negeri Agung memang menyimpan banyak peninggalan budaya dan sejarah. Sebelumnya desa Lebak Budi dan beberapa desa lainnya seperti desa Negeri Agung dan Ulak Pandan berada di bagian Timur sungai Lematang dan diperkirakan pada awal tahun 1900an mulai berpindah ke lokasi saat ini dan desa lama yang telah ditinggalkan menjadi lokasi berkebun dengan mayoritas menjadi kebun karet, sedikit kebun kopi dan sawah. Tidak mengherankan bila kawasan Bukit Serelo atau Bukit Jempol menjadi bagian dari desa Lebak Budi, Negeri Agung dan Ulak Pandan Kecamatan Merapi Barat walaupun letaknya di seberang sungai Lematang. Di kawasan Bukit Serelo setidaknya ada 2 air terjun yang masuk wilayah desa Lebak Budi dan Ulak Pandan kecamatan Merapi Barat. Jadi air terjun juga ditemukan di kecamatan Merapi Barat.

Dengan banyaknya temuan peninggalan budaya dan sejarah di desa Lebak Budi maka dapat dijadikan destinasi wisata budaya misalnya dibuat suatu upacara penyucian benda-benda pusaka dengan prosesi budaya lokal yang dikemas sedemikian rupa sehingga bisa mendatangkan wisatawan. Nah selanjutnya terkait adanya aksara ka ga nga atau huruf ulu maka bisa dibuat kegiatan belajar menulis dan membaca huruf ka ga nga tersebut. Selain potensi budaya dan sejarah yang menjadi wisata budaya juga terdapat potensi wisata alam seperti sungai Lematang yang berada di desa ini dapat dibuat paket wisata menyusuri sungai dengan perahu sehingga wisatawan dapat menikmati pengarungan sungai Lematang sekaligus juga bisa menikmati keindahan Bukit Serelo atau Bukit Jempol. Di desa Lebak Budi juga ada jembatan gantung yang ikonik dan jembatan gantung ini juga bisa menjadi destinasi wisata. Dari jembatan gantung dapat menikmati keindahan Bukit Serelo atau Bukit Jempol. Dengan pengembangan wisata budaya dan wisata alam yang ada maka dapat menambah pendapatan masyarakat dan desa di samping pendapatan dari sektor pertambangan batubara, pertanian dan perkebunan.

Desa Lebak Budi Kecamatan Merapi berada sekitar 13 km dari pusat Kota Lahat, dari arah Kota Lahat melalui jalan lintas Sumatera ke arah Kota Muara Enim sebelum perlintasan kereta api dekat SD Negeri 3 Merapi Barat atau setelah Indomaret belok ke kanan. Sekitar perjalanan 500 meter akan bertemu dengan Kantor Desa dan Bangunan Gedung Serbaguna Desa Lebak Budi. Berbatasan langsung dengan sungai Lematang di bagian Barat dan Utara, desa Tanjung Baru di sebelah Timur dan Desa Negeri Agung di bagian Selatan.
Ditulis oleh Mario Pemerhati Budaya dan Pariwisata Kab. Lahat

Continue Reading

Opini

Published

on

By

OPINI – Negara adalah sebuah keluarga besar tempat warga negara siapapun mereka harus diperlakukan sebagai anak-anak bangsa secara adil. Mereka tidak boleh dibiarkan hidup-mati sendiri, melainkan harus dilindungi, dijaga martabatnya, serta diberi jaminan hidup sejahtera oleh Negara. Seperti yang di tulis oleh Thomas Hobbes dalam bukunya yang berjudul The Leviathan (1651), “government is a protector “, artinya disini tugas pemerintah adalah sebagai pelindung sekaligus penjamin hak-hak dasar masyarakat.

Kemudian dalam buku yang berjudul model dan desain negara kesejahteraan, Profesor Budi Setiyono menjelaskan, Negara Kesejahteraan adalah konsep pemerintahan dimana negara memainkan peran penting dalam perlindungan dan promosi kesejahteraan ekonomi dan sosial warga secara menyeluruh.

Masih dalam bukunya, Prof Budi Setiyono mengutip sosiolog Denmark Esping_Andersen tentang Welfare State yang membaginya menjadi tiga model, yakni, pertama, The Liberal Welfare State, merupakan model negara kesejahteraan yang bertumpu pada pasar dan penyediaan jasa oleh pihak swasta. Posisi negara hadir dalam pelayanan-pelayanan ketika kondisi darurat seperti resesi ekonomi dan bencana alam. Prinsipnya, negara hanya memberikan perlindungan bagi warganya dalam rangka pengurangan kemiskinan.dan penyediaan kebutuhan dasar pada kejadian-kejadian, dan urgensi kehidupan. Dalam model ini, negara hanya memberikan sedikit sekali bantuan dan jaminan sosial kepada warganya. Pelayanannya juga terbatas pada warganya yang terdampak kemiskinan, sedangkan kelas menengah tidak mendapatkan layanan ini. Dengan demikian, model negara kesejahteraan liberal menyebabkan pembelahan antara kelas menengah dan kelas bawah. Akibat lain adalah, negara memberikan pada kelompok tertentu, terutama kalangan ekonomi menengah ke bawah atau masyarakat yang paling membutuhkan. Sehingga, hal ini memerlukan kontrol ketat dari birokrasi pemerintah untuk menentukan siapa yang berhak dan tidak untuk menerima jaminan sosial dari negara.

Yang kedua adalah Negara Kesejahteraan Sosial Demokratik, sitem Negara kesejahteraan yang memberlakukan pelayanan universal pada seluruh warga negara untuk mengakses pelayanan secara setara tanpa memandang penghasilan dan tingkat ekonomi warga. Pelayanan yang dimaksud merupakan jaminan sosial penyediaan pekerjaan, kesehatan, pendidikan melalui penyesuaian model perpajakan.

Sehingga, tanpa memandang kelas, seluruh warga negara dilayanani jaminan sosial untuk mencapai kesejahteraan yang dimaksud. Model ini merupakan perkembangan dari sosialisme yang juga mengakomodir kepentingan kelas menengah dalam pelayanan negara. Dan model ini banyak diterapkan di negara-negara Skandinavia “Nordic Model“.

Kemudian yang ketiga adalah model Kristian dari Negara Kesejahteraan merupakan model paling moderat. Dijelaskan Prof Budi Setiyono , model ini menerapkan prinsip subsidiarity atau desentralisasi dan dominasi skema asuransi-asuransi sosial. Sekaligus, negara menawarkan alternatif jaminan sosial dan asuransi sesuai dengan tingkat ekonomi. Dengan kata lain, negara memberikan jaminan sosial kepada seluruh warga negara, namun demikian juga tetap memberikan kebebasan kepada warganya memilih untuk mendanai jaminannya sendiri.

Kemudian bagaiamana dengan Indonesia, sebenarnya Indonesia telah menerapkan Welfare State dalam berbagai bentuk, misalnya Bantuan Langsung Tunai, BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, Subsidi BBM, Subsidi Listrik, Program Wajib Belajar 12 tahun, Bantuan selama pandemi Covid-19, Program wajib belajar 12 tahun dan BOS untuk dunia pendidikan. Semua itu merupakan upaya-upaya bagaimana Negara kita memainkan perannya untuk melindungi dan menjamain kesejahteraan masyarakatnya.

Namun demikian, kenapa Indonesia belum juga mencapai titik “ideal” dari negara kesejahteraan Ada beberapa urgensi rekomendasi agar upaya dan peran Negara dalam menghadiahi suatu kesejeahteraan kepada warga negarannya dapat lebih efesien :

Pertama, Adanya pembaruan bank data yang kuat, akurat dan berkala yang kemudian dijadikan data tunggal”. Dalam mengupayakan Negara kesejahteraan, tentu saja kita bergerak melalui data yang kuat, akurat dan berkala. Bagaimana mungkin program dan kebijakan akan baik tanpa didasari data. Contoh di Kementrian Sosial baru-baru ini, ada 21 juta data ganda penerima bansos dinonaktifkan. Bagaimana mungkin upaya hadirnya Negara untuk menjamin kesejahteraan rakyatnya akan optimal jika sasaran yang di berikan perlindungan dan jaminan justru tidak akurat.

Kedua, Negara harus mulai menyusun sistem keseimbangan antara kewajiban dan hak (obligations and rights) bagi warga Negara. Sudah seharusya kewajiban dan hak terkelola dalam satu kesatuan yang konektif dan resiprokal. Negara belum menyediakan perangkat untuk memastikan setiap warga Negara yang melaksanakan kewajiban dengan baik akan diberi hak secara penuh. Bahkan Negara belum mendefiniskan secara pasti apa saja yang menjadi kewajiban warga Negara dan apa saja yang menjadi hak yang akan diperoleh setelah melaksanakan kewajiban itu. Hal ini juga yang menjadi faktor banyaknya warga negara yang seperti menyepelekan hukum, karena tidak ada konsekuensi akan kehilangan hak yang diberikan oleh negara apabila melanggar hukum.

Ketiga , Kolaborasi dan harmonisasi antara pemerintah dan warga negara. Seluruh negara yang sudah mencapai taraf kesejahteraan, lahir dari kerja sama yang baik antara pemerintah dan seluruh warga negaranya. Tentu saja hal ini juga berlaku di Negara kita. Namun pada era “global village” saat ini, ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat memungkinkan lahirnya distrust kepada pemerintah. Dampak selanjutnya dari adalah keacuhan masyarakat tersebut terhadap ketentuan dan kewajiban yang ada di Negara kita . Tentu saja hal ini menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan kehidupan bernegara, terlebih jika kita memimpikan Negara yang sejahtera.

Serta yang terakhir, kelembagaan konektif. Dalam mewujudkan negara kesejahteraan tentu peran lembaga negara yang konektif harusnya bisa menjadi Grand Planning dalam upaya mewujudkan negara kesejahteraan. Misalnya, dalam tahun 2020 Kabupaten Lahat melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mengkonfirmasi akan ada lulusan x jumlah peserta didik. Tentu saja x jumlah peserta didik yang lulus tersebut akan masuk ke daftar pencari kerja.

Kemudian selanjutnya Dinas Ketenagakerjaan harus mampu mengantisipasi terhadap kebutuhan peluang lapangan pekerjaan baru sebanyak x jumlah peserta didik yang sudah lulus tsb. Fungsi selanjutnya dari dinas ketenagakerjaan adalah bagaiamana membuat para pencari kerja baru ini, mempunyai kesiapan dan skill untuk terjun ke dunia kerja, misalnya dengan memberikan pelatihan dan pematangan skill. Kemudiaan bagaimana untuk melahirkan peluang lapangan pekerjaan baru tersebut demi memenuhi kebutuhan para pencari kerja tersebut? Peran Dinas Perizinan dan Penanam Modal harus mampu merangsang dan mengupayakan pemunuhan kebutuhan tersebut dengan menarik investor, demi menghindari membludaknya angka pengangguran di wilayah itu.

*Oleh Abrar Kharas, PNS di PemKab Lahat, Mahasiswa Magister Ilmu Politik Universitas Diponegoro.

*Referensi, Model & Desain Negara Kesejahteraan, 2018 oleh Prof Budi Setiyono, Ph.D.

Continue Reading

Popular